Kita sepakat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang
bermanfaat untuk orang lain. Itu memang benar dan sudah tertulis dalam lembaran suci dan abadi. Tapi,
bagaimana caranya kita menjadi orang bermanfaat? Apakah kita harus bisa/ahli
dalam suatu hal? Ternyata tidak.
Film ini dibintangi oleh Salman Khan, persembahan dari Sohail
Khan Production yang dirilis pada tanggal 17 Januari tahun 2014 ini
mengingatkan kita tentang kesederhanaan cara dalam menularkan virus-virus
kebaikan. Setiap orang bisa melakukannya karena modalnya hanyalah ketulusan. Bagaimana
caranya? Langsung disimak yuk!
Sudah kodratnya, kejahatan itu sangat cepat tersebar,
seperti virus. Sementara, kebaikan itu seperti obat, butuh waktu untuk
menyembuhkannya. Tapi, yang harus difahami di sini adalah bukan seberapa cepat
kebaikan itu tersebar luas, tapi seberapa luas kebaikan itu tertular dan ditularkan.
Kejahatan pun bisa dimaafkan
Ranky, tetangganya sempat menduga bahwa Jai adalah seorang pengecut karena berhenti dari tentara. Lalu, kakaknya menceritakan yang sebenarnya bahwa alasannya berhenti dari tentara justru karena keberaniannya bukan sifat pengecutnya. Di tengah pertempuran yang semakin genting, komandan meminta perang dihentikan karena sudah terlalu banyak pasukan yang tewas. Tapi, Jai justru semakin menjadi-jadi dan memperjuangkan nasib sandraan (anak-anak dibawah umur) hingga berhasil bebas. Dan, ia diberhentikan karena melanggar perintah komandan tertinggi. Jai Ho tidak menyesal sama sekali. Ia menerimanya dengan lapang dada meskipun itu tidak adil untuknya. Tapi, baginya tidak perlu berseragam atau menjabat untuk berbuat kebaikan.
Berterimakasihlah kepadaku dengan menolong 3 orang!
Di momen inilah ide kebaikan itu bermula. Ketika ia berhasil menyelamatkan seorang bayi yang diculik oleh pengemis, orang tuanya berterimakasih kepadanya. Tapi, inilah jawabannya..
"Tidak perlu berterimakasih kepadaku. Bantulah 3 orang setiap kali ada kesempatan dan mintalah 3 orang itu membantu 3 orang lagi!"
Jai menuliskan idenya itu di atas kertas dan menggambarkannya seperti sebuah diagram MLM. Ia menjabarkan akar jaringan itu sampai pengalinya berjumlah jutaan, demikianlah multilevel itu akan tumbuh berkembang. Ide yang sederhana tapi luar biasa maknanya!
Bahkan ibunya pun sempat meragukannya
"Dengar Nak... tak semua orang di dunia ini sepertimu. Orang-orang terlalu sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Semua orang ingin membantu, tapi tak semua orang mau melakukannya. Kau sudah berjanji kepadaku jika tidak ada yang mengikuti ideologimu itu kamu tidak akan kecewa," tutur sang ibu.
"Tidak Bu, aku tidak kecewa. Tenanglah!"
Tapi Jai jadi termenung, memikirkan lagi bagaimana caranya mempengaruhi orang-orang berpengaruh supaya bisa membantunya menularkan kebaikan ini.
Dengan cara apapun, aku akan membantunya!
"Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku tertuju padanya. Kemarin, aku melihat seorang gadis cacat yang pernah ku tolong menuliskan ujiannya bunuh diri di hadapanku, tadi aku melihat gadis malang yang dipukul ketika mengemis dan aku berhasil menemukan seorang anak yang diculik. Kenapa hanya aku yang melihat semua kejadian ini?"
"Tidak Jai. Mereka pun melihatnya. Tapi, mereka mengabaikannya. Kamu pasti pernah mendengar ungkapan ini; 'Aku akan membantunya dengan cara apapun'. 'Dengan cara apapun' itulah tujuanmu karena itulah sifatmu. Dan, itulah perbedaanmu dengan orang lain. Kau pasti bisa membuat perubahan! Bagaimana dan kapan, kita tunggu saja waktunya."
Satu Orang pun bisa membuat perbedaan
Ketika pak mentri meminta Jai meminta maaf kepada menantu seorang pejabat yang telah dibunuhnya, Jai menolak. Ia sudah pernah meminta maaf tap perlakuan yang didapat justru sebaliknya.
"Nak, apa yang bisa kamu lakukan sendirian? Sekarang, kamu akan menemuinya bersamaku."
"Pak, saya hanya ingin menegakkan kebenaran dan berbuat kebaikan. Dan, saya ingin membuktikan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan Pak!"
Hasil selalu sepakat dengan proses
Ini adalah hadiah bagi Jai. Rantai kebaikan yang ditularkannya sudah menyebar seperti ini. Kita diajarkan untuk jangan pernah ragu melakukan kebaikan sekceil apapun karena tidak ada kebaikan yang tidak berdampak. Tentang kapan dan bagaimana hasilnya adalah sebuah misteri. Tapi, tentang siapa dan bagaimana caranya adalah tentang upaya diri sendiri.
Meskipun film ini sudah ku tonton berkali-kali, tapi tetap saja airmata tumpah ruah. Sama seperti film-film India lainnya; menyentuh dan syarat pesan.
*Merasa artikel ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE...
Kejahatan pun bisa dimaafkan
Ranky, tetangganya sempat menduga bahwa Jai adalah seorang pengecut karena berhenti dari tentara. Lalu, kakaknya menceritakan yang sebenarnya bahwa alasannya berhenti dari tentara justru karena keberaniannya bukan sifat pengecutnya. Di tengah pertempuran yang semakin genting, komandan meminta perang dihentikan karena sudah terlalu banyak pasukan yang tewas. Tapi, Jai justru semakin menjadi-jadi dan memperjuangkan nasib sandraan (anak-anak dibawah umur) hingga berhasil bebas. Dan, ia diberhentikan karena melanggar perintah komandan tertinggi. Jai Ho tidak menyesal sama sekali. Ia menerimanya dengan lapang dada meskipun itu tidak adil untuknya. Tapi, baginya tidak perlu berseragam atau menjabat untuk berbuat kebaikan.
Berterimakasihlah kepadaku dengan menolong 3 orang!
Di momen inilah ide kebaikan itu bermula. Ketika ia berhasil menyelamatkan seorang bayi yang diculik oleh pengemis, orang tuanya berterimakasih kepadanya. Tapi, inilah jawabannya..
"Tidak perlu berterimakasih kepadaku. Bantulah 3 orang setiap kali ada kesempatan dan mintalah 3 orang itu membantu 3 orang lagi!"
Jai menuliskan idenya itu di atas kertas dan menggambarkannya seperti sebuah diagram MLM. Ia menjabarkan akar jaringan itu sampai pengalinya berjumlah jutaan, demikianlah multilevel itu akan tumbuh berkembang. Ide yang sederhana tapi luar biasa maknanya!
Bahkan ibunya pun sempat meragukannya
"Dengar Nak... tak semua orang di dunia ini sepertimu. Orang-orang terlalu sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Semua orang ingin membantu, tapi tak semua orang mau melakukannya. Kau sudah berjanji kepadaku jika tidak ada yang mengikuti ideologimu itu kamu tidak akan kecewa," tutur sang ibu.
"Tidak Bu, aku tidak kecewa. Tenanglah!"
Tapi Jai jadi termenung, memikirkan lagi bagaimana caranya mempengaruhi orang-orang berpengaruh supaya bisa membantunya menularkan kebaikan ini.
Dengan cara apapun, aku akan membantunya!
"Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku tertuju padanya. Kemarin, aku melihat seorang gadis cacat yang pernah ku tolong menuliskan ujiannya bunuh diri di hadapanku, tadi aku melihat gadis malang yang dipukul ketika mengemis dan aku berhasil menemukan seorang anak yang diculik. Kenapa hanya aku yang melihat semua kejadian ini?"
"Tidak Jai. Mereka pun melihatnya. Tapi, mereka mengabaikannya. Kamu pasti pernah mendengar ungkapan ini; 'Aku akan membantunya dengan cara apapun'. 'Dengan cara apapun' itulah tujuanmu karena itulah sifatmu. Dan, itulah perbedaanmu dengan orang lain. Kau pasti bisa membuat perubahan! Bagaimana dan kapan, kita tunggu saja waktunya."
Satu Orang pun bisa membuat perbedaan
Ketika pak mentri meminta Jai meminta maaf kepada menantu seorang pejabat yang telah dibunuhnya, Jai menolak. Ia sudah pernah meminta maaf tap perlakuan yang didapat justru sebaliknya.
"Nak, apa yang bisa kamu lakukan sendirian? Sekarang, kamu akan menemuinya bersamaku."
"Pak, saya hanya ingin menegakkan kebenaran dan berbuat kebaikan. Dan, saya ingin membuktikan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan Pak!"
Hasil selalu sepakat dengan proses
Ini adalah hadiah bagi Jai. Rantai kebaikan yang ditularkannya sudah menyebar seperti ini. Kita diajarkan untuk jangan pernah ragu melakukan kebaikan sekceil apapun karena tidak ada kebaikan yang tidak berdampak. Tentang kapan dan bagaimana hasilnya adalah sebuah misteri. Tapi, tentang siapa dan bagaimana caranya adalah tentang upaya diri sendiri.
Meskipun film ini sudah ku tonton berkali-kali, tapi tetap saja airmata tumpah ruah. Sama seperti film-film India lainnya; menyentuh dan syarat pesan.
*Merasa artikel ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE...






