Manajemen Cinta dalam Khazanah Kejayaan Islam


Cinta dan  kejayaan islam. Mungkin secara sepintas sama sekali tidak menunjukkan korelasi. Tapi memang itulah adanya. Cinta pada faktanya memang mampu menggerakkan jiwa umat islam. Sebut saja Zaid bin Tsabit. Betapa cinta telah membuat bocah ini dengan keberanian dan pengorbanan menghadap Rosululloh SAW. untuk ikut dalam barisan jihad. Cinta juga yang telah membuat Abu Bakar menguras semua hartanya tanpa meninggalkan sesuatu apapun bagi keluarganya demi kepentingan agama ini.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan secara lugas dan jelas tentang manajemen cinta dalam konteks pemurnian cinta pemuda pada agamanya yang saat ini telah tergerus zaman.




 Perbandingan pemuda dulu dengan pemuda masa kini dalam mencintai Islam
Foto: Koleksi Pribadi


Bagaimana keadaan Islam kala pada masa Rosulullah dan sahabat? Berjaya. Hanya jawaban singkat itu yang mampu mewakili deskripsi keadaan agama rohmatallil’alamin ini. Wilayah cakupan yang luas, sumber daya alam yang terkelola dengan penuh kesyukuran dan yang terpenting adalah umat yang cinta kepada Rabbnya. Tak ada yang kurang. Lagi-lagi itu semua berawal dari cinta manusia pada agamanya, Islam.

Tapi mari kita lihat apa yang terjadi sekarang. Ketika pemuda kita saat ini mulai luntur kecintaannya terhadap Islam, hingga umat lain dengan leluasa mengobrak-abrik Islam, mendoktrin kekayaan Islam atas dirinya dan pemuda hanya mampu menonton dengan mulut ternganga. Tak berdaya apa-apa. Yang menjadi pertanyaan adalah; 'Bagaimana Islam akan berjaya jika pemuda yang merupakan penggerak dan penggebrak peradaban sudah kehilangan cintanya pada Islam?' 

Ketika hari ini mereka lebih memilih memenuhi panggilan kekasih, pacar dibanding memenuhi panggilan Allah. Ketika hari ini pemuda lebih mencintai manusia lain dibanding sang Maha Cinta. Ketika hari ini pemuda dengan gamblang melucuti aturan Islam untuk bisa dengan bebas berbuat dosa dan lebih menjijikkan ketika cinta dijadikan embel-embel untuk tujuan menyimpang. Bagaimana Islam akan berjaya di tangan-tangan penjamah aurat? Bagaimana Islam akan benderang dari bibir-bibir penggombal? Dan bagaimana Islam akan kembali menggelora jika pemudanya kuasa menahan goda?
  



Cinta bukan semata-mata tentang Pacaran
Foto: Koleksi Pribadi

Ketika kita berbicara tentang cinta, kebanyakan pemuda akan langsung berfikir tentang ‘pacaran’. Padahal, cinta itu luas. Cinta itu agung dan tidak semata-mata tentang pacaran. Memang, bukan hal yang aneh jika ada ketertarikan antara pria dan wanita karena itulah fitrahnya. Namun keputusan yang diambil dalam menyikapi RASA inilah yang menjadi masalah. Rasa suka selalu diidentifikasikan dengan ingin selalu bersama, ingin selalu melihat wajah pujaan hati, hingga akhirnya menuntut pada rasa ingin memiliki; pacaran. Padahal, tidak ada cinta yang halal sebelum pernikahan. Maka, sebaik-baik jatuh cinta adalah setelah pernikahan.



Teladanilah keagungan cinta Ali dan Fatimah
Foto: Koleksi Pribadi


Cinta yang suci adalah cinta yang dibiarkan tumbuh di dalam hati tanpa dikotori oleh nafsu, tetap ikhlas menjaga meskipun harus menanggung resiko sang pujaan hati menjadi milik orang, itulah hakikat cinta. Cinta sejatinya adalah penghambaan kepada Tuhan, bukan pembudakan terhadap nafsu. Lihatlah kisah cinta sahabat Ali yang begitu indah. Ketika cinta itu tumbuh di hatinya, ia tetap menjaganya rapat-rapat. Berusaha untuk menghalau nafsu dengan menjaga hati dan pandangan dalam setiap pertemuan yang tak terencanakan.

Hingga cinta itu harus diuji ketika Fatimah sang pujaan hati dilamar oleh sahabat yang dia anggap jauh lebih baik dari dirinya. Bukan main sedihnya kala itu, namun ia terus bersabar. Lalu apa yang terjadi? Lamaran itu ditolak. Bukan hanya satu kali kejadian ini terjadi, namun dua kali. Hingga akhirnya ayahanda Fatimah memanggilnya dan memerintahkannya untuk melamar sang anak. Maka jadilah ia hidup bersama dengan sang pujaan hati. Kurang romantis apa?



Awali dari Kesadaran
Foto: Koleksi Pribadi


Pada masa sahabat, Islam mencapai masa kegemilangannya karena pemudanya semisal Ali mampu mengimplementasikan cintanya dengan benar. Hari ini pun kita bisa memulai untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti masa dahulu. Kiat untuk mencapai manajemen cinta yang baik sebenarnya hanya bermula dari satu hal, yakni sadar. Bukan hanya sadar biologis, melainkan ada beberapa kesadaran yang perlu ditumbuhkan agar pemuda Islam memililiki pandangan yang benar akan sebuah cinta.

Bagaimana Ali dengan ikhlas menerima ketika Fatimah dilamar oleh Umar, itulah salah satu definisi poin kesadaran ini. Hal ini diartikan bahwa mencintai itu harus ikhlas, bukan memaksakan kehendak hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sang pujaan hati (termasuk mengajak pacaran). Lebih mengerikan ketika hal ini membua pemuda melangkah jauh dari syariat Islam.



Cinta kepada manusia tak lebih seperti rasa suka pada Bakso
Foto: Koleksi Pribadi
Sesuka apapun seseorang pada bakso jika setiap hari untuk sarapan, makan siang dan makan malam, maka orang itu lama-lama akan bosan. Terlebih ketika rasa bakso itu mengecewakan si penyuka bakso. Tidak ubahnya dengan manusia yang terlalu mencintai manusia, selalu ingin bersama, maka lama-kelamaan akan bosan karena tidak ada dasar cinta kepada Allah yang menyertainya. Bukan main pula sakitnya ketika sang pujaan hati malah mengecewakannya. Maka hanya cinta kepada agama ini dan cinta kepada Allahlah yang tak akan pernah mencipta kecewa.



Mencintalah pada Sang Maha Cinta

Foto: Koleksi Pribadi
Cinta hadir karena adanya perhatian yang lebih dari seseorang kepada kita. Lalu yang harusnya membuat kita sadar adalah, bukankah hanya Allah yang setiap hari memperhatikan kita, mencukupi kebutuhan kita. Lalu, mengapa tak segera kita sadar bahwa hanya Allah pemerhati yang baik, dan hanya Dia yang patut untuk seluruh jiwa raga menambatkan cinta.

Cinta yang sebenar cinta akan membuat manusia sadar bahwa agama ini memerlukan pembela-pembela yang tak meletakkan dunia di dalam hatinya. Maka jika sudah begini, bukan mustahil lagi kejayaan Islam itu akan kembali. Ketika kiat-kiat memanajemen cinta itu dapat terlaksana dengan baik, maka cita-cita kejayaan Islam akan benar-benar segera menggeliat dan dengan cekatan tegak pada posisi  kesempurnaan. Dan semuanya ada pada pemuda yang meletakkan Islam di hatinya.

*An Article by: Romi Kurniadi