Rasa tertekan oleh keadaan akan membuat kita 2 kali lipat lebih bertenaga, lebih kreatif dan lebih survive untuk melewati keadaan tersebut. Tak jarang, kekuatan hebat justru terlahir dari kondisi yang tidak berpihak seperti itu. Sebaliknya, kondisi tenang (comfort zone) cenderung membuat manusia lambat atau bakan diam di tempat. Maka, kita memang harus ke luar dari zona nyaman menuju tempat yang lebih menghebatkan.
Seperti apa the power of kepepet ala pemuda Indonesia seharusnya? Yuk, langsung disimak!
Kita terlalu lama terlena. Dibuai oleh Gemah Ripah Loh Jinawinya Indonesia
Seperti apa the power of kepepet ala pemuda Indonesia seharusnya? Yuk, langsung disimak!
Kita terlalu lama terlena. Dibuai oleh Gemah Ripah Loh Jinawinya Indonesia
![]() |
| Foto: Koleksi Pribadi |
Tak usah berharap banyak pemuda Indonesia bisa sekreatif
pemuda Jepang;
menciptakan sebuah teknologi bercocok tanam yang luar biasa dahsyat. Ternyata tanah tandus beradio aktif tinggi akan
membuat otak lebih lues berpikir
ketimbang hamparan tanah gembur nan luas yang disebut orang Tanah Syruga ini. Hey, lagipula apa yang perlu
dirisaukan jika melempar kayu saja engkau mendapat jaminan bisa memanennya
beberapa waktu kemudian. Tak perlu ada teknologi tinggi, tak perlu ada
kreatifitas nan cantik dan menarik, bukan?
Jika John Howkins menulis sebuah buku bertajuk “The Creative Economy: How People Make Money
from Ideas”, maka kita akan mengalahkannya dengan buku
yang tak kalah dahsyat, “How People
Make Money from tears.” Tak perlu bersusah untuk menemukan sebuah
pemikiran cerdas, pergi saja ke lampu merah, pasang wajah sedih, kalau perlu
berurai air mata, menadahkan tangan, maka rupiah akan mengalir. Hasilnya luar
biasa, lebih dari Rp 200.000 per hari. Kalkulasikan saja dalam satu bulan dengan
jumlah jam kerja 26 hari jam kerja dalam satu bulan, maka Rp 5.200.000 sudah ditangan.
PNS pun kalah oleh pengemis. Apakah perlu otak kreatif? Tidak. Hanya perlu
membuang rasa malu!
Mungkin gambaran tersebut terlalu sarkas, tapi ini
adalah visualisasi terjelas yang bisa langsung dibuktikan sendiri. Pemuda masih merasa nyaman dengan gemah ripah loh jinawi bangsa ini,
hingga otaknya tumpul karena sudah lama dikikis oleh kerak malasnya.
Problem Solving adalah tentang Sinergi
![]() |
| Foto: Koleksi Pribadi |
Pemerintah boleh jadi
sudah kalang kabut memikirkan bagaimana menjadikan pemudanya beretos kerja
tinggi dengan
berbagai terobosan yang dianggap bisa merangsang daya pikir pemuda. Berbagai
seminar dan pelatihan dilakukan, ekonomi kreatif yang menitik beratkan pada pola
berpenghasilan dengan mengandalkan pikiran pun digembar-gemborkan. Hasilnya?
Tentu saja berhasil walau hanya mampu menyadarkan kurang dari 2% pemuda
Indonesia. Kemana yang lain? Sedang asik menyantap nasi kotak dari seminar tadi
siang.
Dalam strategi pembelajaran kita mengenal salah satu
strateginya adalah Problem solving (penyelesaian
masalah). Strategi pembelajaran ini memiliki pengertian bahwa peserta didik akan
dilatih menyelesaikan permasalahan. Biasanya guru akan memberikan sebuah kasus, lalu siswa diberikan watu sekian menit untuk
menemukan solusi hebat dan tepat. Dalam beberapa menit, bermunculanlah ide hebat itu.
Pertanyaannya adalah, mengapa ide kreatif itu muncul? Mudah saja. Karena siswa tersebut dalam keadaan 'tertekan' oleh waktu.
Negeri kita semakin Kritis. Jangan tunggu ia rusak, barulah kita akan bergerak!
Inilah yang terjadi dengan manusia pada umumnya, bukan hanya
pemuda Indonesia. Bahkan jika Hirosima dan Nagasaki tidak di bom bardir hingga
membuat tanahnya hancur lebur, maka orang Jepang tak akan pernah bersusah payah
menemukan solusi cerdas dengan bercocok tanam menggunakan media non tanah. Sudah
jadi kelumrahan jika hari ini pemuda
Indonesia masih merasa nyaman dengan alam Indonesia yang konon menjanjikan
kesejahtaraan, hingga sampai kapanpun tidak akan ada kreatifitas maha dahsyat
yang akan keluar dari diri pemuda Indonesia.
Tunggu saja apa yang akan terjadi di Papua setelah buminya
terburai hancur oleh pertambangan emas. Tunggu saja Minyak di Duri kering
kerontang karena setiap hari buminya dijejali pipa dan dipompa oleh mesin imperealisme
yang senantiasa mengangguk mengamini kekayaan Duri. Tunggu saja. Ketika itu
semua terjadi, maka kreatifitas itu akan muncul. Bagaimana bisa? Karena sudah kepepet. Mungkin Papua akan menjadi
ujung tombak dari semua kebangkitan kreatifitas pemuda.
Hanya saja, sebenarnya ada yang salah dengan pandangan
pemuda tentang kenyamanan ini. Bumi kita sudah tak sekaya pemerintahan orde
baru yang hanya dengan menjual beberapa liter minyak saja cukup untuk makan.
Bumi kita tak sekaya dulu. Bumi Papua sudah mencoba bercerita,”aku habis.” Tapi
kita tak sadar juga. Duri yang saat ini digadang-gadang sebagai penghasil
minyak terbesar di Riau pun tak bisa lagi diharapkan lebih lama. Kepala Divisi
Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana menyatakan kepada Riau
Pos di Jakarta, Senin (5/3) bahwasannya apabila menghasilkan 360 ribu barel
perhari, maka diperkirakan hanya 12 tahun lagi masa eksistensi Duri sebagai
penghasil minyak terbesar di Riau.
Sadarlah bahwa kita sedang Kepepet!
Melihat kenyataan ini, maka sudah seharusnya pemuda
menyadari bahwa Indonesia sudah dekat dengan masa “kepepet” yang
mengharuskan pemuda lebih berpikir kreatif. Maka, demi membangun kesadaran ini,
pemerintah hendaknya memberikan penekanan pada sisi penyadaran pemuda.
Pelatihan-pelatihan dan seminar-semiar hendaknya diikuti dengan follow up yang
jelas. Akan sangat disayangkan jika pelatihan yang menelan dana besar hanya
jadi sebuah seremonial pelaksanaan program. Fasilitas harus menyertai pemuda
dalam rangka tindak lanjut dari sebuah pelatihan. Dengan adanya fasilitas maka
pemerintah berhak untuk meminta feed back dari pemuda. Feed back inilah yang
akan menekan pemuda untuk berfikir lebih keras dan menelurkan pemikiran dengan
kreatifitas tingkat tinggi. Ya, sekalipun ini masih soal the power of kepepet,
tapi ini bisa jadi pertimbangan untuk sebuah solusi.
Mari berbenah!
*A article by Romi Kurniadi



